Membelah Bukit, TMMD Hadirkan ‘Merah Putih’ di Gunung Cut

HERRY

- Redaksi

Minggu, 24 Mei 2026 - 10:50 WIB

5035 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dansatgas TMMD ke-128 Kodim 0110/Abdya
Letkol Inf Rana Mega Al-Amin, S.I.P.

Dansatgas TMMD ke-128 Kodim 0110/Abdya Letkol Inf Rana Mega Al-Amin, S.I.P.

Kabut pagi masih menggantung di lereng pegunungan saat asap tipis membubung perlahan dari bara tempurung kelapa yang menyala di balai tani Gampong Gunung Cut, Kecamatan Tangan-Tangan, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).

Aroma dupa bercampur harum daun-daun hutan menguat ke udara, menyatu dengan doa-doa yang lirih dilantunkan warga dalam kenduri ‘Bungong Kayee’, adat menyambut musim bunga tanaman perkebunan.

Bagi masyarakat Gunung Cut, kenduri itu bukan sekadar tradisi turun-temurun. Adat ini adalah cara mereka bersyukur kepada Tuhan atas harapan hidup yang tumbuh dari lereng pegunungan. Dari tanah yang dingin dan subur itulah pohon-pohon durian menjulang, kopi menghijau di sela bukit, pala dan pinang berbuah, sementara jengkol serta petai menjadi penyangga dapur banyak keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hidup dalam Keterisolasian
Namun di balik kesuburan itu, tersimpan kisah panjang tentang keterisolasian. Puluhan tahun lamanya masyarakat Gunung Cut yang menggantungkan hidup dari hasil kebun di atas pegunungan, tetapi mereka tidak pernah benar-benar memiliki akses jalan yang layak.

Hanya jalan setapak berlumpur, licin dan curam menjadi satu-satunya urat nadi penghubung hasil perkebunan menuju pemukiman. Saat musim hujan datang, jalan berubah menjadi kubangan tanah merah.

Dan warga harus memikul karung kopi, pala, bahkan durian dengan berjalan kaki berkilo-kilometer menuruni bukit. Tak sedikit hasil kebun rusak di perjalanan. Ada pula warga yang memilih menjual murah hasil panennya kepada tengkulak karena tak sanggup membawa turun sendiri.

“Mimpi kami sederhana, cuma ingin ada jalan supaya hasil kebun mudah dibawa pulang,” tutur seorang warga dengan mata menerawang ke arah bukit.

Mimpi yang Menemukan Jalannya
Kini, mimpi sederhana itu akhirnya menemukan jalannya. Pada suatu pagi yang tak biasa, deru kendaraan militer mulai terdengar memasuki desa. Puluhan prajurit TNI datang dengan seragam loreng dan peralatan kerja. Anak-anak berlarian menyambut, sementara para orang tua berdiri di depan rumah dengan wajah penuh tanya.

Hari itu, program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-128 Kodim 0110/Abdya resmi dimulai. Di bawah komando Dansatgas TMMD Kodim 0110/Abdya, Letkol Inf Rana Mega Al-Amin, S.I.P, para prajurit bersama masyarakat memulai pekerjaan besar yang selama puluhan tahun hanya menjadi angan-angan warga.

Membelah Bukit, Membuka Jalan
Selama 30 hari, pegunungan Gunung Cut berubah menjadi lautan gotong royong. Suara mesin excavator bersahut dengan dentingan cangkul warga. Tangan-tangan prajurit yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) TMMD ke-128 dan masyarakat menyatu membelah bukit, membuka badan jalan sepanjang 2,5 kilometer dengan lebar 8 meter di atas pegunungan.

Sayangnnya, membuka jalan baru bukanlah pekerjaan mudah. Tanah berbatu, medan terjal, dan cuaca yang kerap berubah menjadi tantangan sehari-hari. “Bayangkan, medannya berbukit, untuk menuju ke lokasi sasaran saja sulit. Tapi para personel Satgas TMMD tterus bekerja keras tanpa kenal lelah. Semua demi memenuhi harapan akan jalan bagi warga Gunung Cut,” ungkap Dansatgas.

Ada butiran bening di pojok bola matanya dan berusaha ditahan saat bercerita bagaimana perjuangan para prajuritnya demi mewujudkan asa warga Gunung Cut. Kadang prajurit harus bermalam di lokasi, makan seadanya, lalu kembali bekerja sejak matahari belum tinggi.

“Namun semua dilalui bersama. Alhamdulillah, pekerjaan lancar, sebentar lagi warga bisa menikmati akses jalan yang baik. Dan semoga ke depan apa yang kita bangun bisa membawa dampak pada kesejahteraan masyarakatnya,” harapnya, sambil menatap lurus pada jalanan yang sebentar lagi tuntas.

Rehab Rumah Tidak Layak Huni
Di sela pembangunan jalan, Satgas TMMD juga membangun lima unit MCK, lima sumur bor, serta merehab lima rumah tidak layak huni bagi warga kurang mampu.

Salah satu rumah yang direhab adalah milik Nurhabibah (77). Rumah itu berdiri di ujung desa tepat di kaki pegunungan Gunung Cut, nyaris tersembunyi di balik semak dan pohon pisang.

Sebelum disentuh program TMMD, gubuk tua itu hanya beratapkan daun rumbia yang mulai hitam dimakan usia. Dinding papannya lapuk dan berlubang di sana-sini. Saat hujan turun, air masuk dari celah atap dan membasahi lantai tanah. Beberapa bagian dinding bahkan ditutupi kertas koran bekas agar angin malam tidak terlalu menusuk.

Di rumah itulah Nurhabibah menghabiskan masa tuanya berdua dengan suaminya, Yunan (85), salah seorang eks kombatan, yang sudah renta, sakit-sakitan.

Setiap pagi, nenek renta itu berjalan perlahan menuju kebun kecil miliknya. Dengan tubuh yang mulai membungkuk, ia memetik hasil kebun seadanya untuk dibarter dengan beras, gula, atau kebutuhan dapur lainnya.

Kadang ia pulang hanya membawa singkong. Kadang hanya beberapa buah pinang. Namun di usianya yang senja, Nurhabibah tidak pernah banyak mengeluh.

“Yang penting masih bisa makan,” ucapnya lirih suatu hari.

Kalimat sederhana itu membuat banyak prajurit terdiam. Saat Satgas TMMD mulai merehab rumahnya, Nurhabibah kerap duduk memandangi para prajurit bekerja. Sesekali matanya berkaca-kaca melihat rumah yang selama puluhan tahun bocor dan hampir roboh kini perlahan berubah menjadi tempat tinggal yang layak.

Ia tak pernah membayangkan akan memiliki rumah berdinding kokoh. “Dulu kalau hujan saya susah tidur, air masuk semua,” katanya sambil mengusap mata.

Dan bagi Nurhabibah, rumah kecil yang kini berdiri kokoh di kaki bukit bukan sekadar tempat berteduh. Di usianya yang senja, ia pun kini merasakan keadilan dan kebersamaan itu ada.

Bagi prajurit TNI, membangun rumah Nurhabibah bukan sekadar menyelesaikan target fisik. Ada harapan yang sedang ditegakkan kembali di dalamnya, bahwa negara hadir hingga ke kaki pegunungan.

Tidak hanya soal rumah layak huni, Dansatgas juga membekali sejumlah warga penerima manfaat dengan bantuan modal usaha dan aset awal ketahanan pangan dengan menyalurkan bantuan bibit ayam petelur sebanyak 30 ekor lengkap dengan kandang dan pakannya, 300 bibit ikan lele lengkap dengan kolam bioflok dan pakannya serta 300 Polibag tanaman sayuran berbagai jenis.

Tak hanya membangun fasilitas, Satgas TMMD ke-128 juga merangkul sepasang Lansia ini untuk kembali ke merah putih. Ada keharuan yang tak terbendung saat Nurhabibah bersama suaminya menurunkan bendera usang masa kelam dan menggantikannya dengan merah putih. Penggantian tajuk ini dilakukan langsung oleh sepasang Lansia dengan penuh keikhlasan di hadapan Dansatgas.

Membuka Cara Pandang
Tak hanya pembangunan fisik, TMMD juga membawa pengetahuan baru bagi masyarakat. Di meunasah desa, warga berkumpul mengikuti berbagai penyuluhan. Ada penyuluhan pertanian, hukum, lingkungan dan kehutanan, hingga pelatihan memanfaatkan sampah dapur menjadi pupuk organik.

Bagi masyarakat Gunung Cut, kehadiran TMMD bukan hanya membangun jalan dan rumah, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang masa depan desa mereka.

Kini, saat jalan itu telah terbuka, dan kendaraan mulai bisa naik ke area perkebunan darma bakti para prajurit itu menjadi nyata. Hasil panen yang dulu dipikul dengan susah payah, perlahan dapat diangkut lebih mudah menuju pemukiman. Anak-anak desa pun kian bebas berlarian di badan jalan baru yang dahulu hanya berupa semak dan tanah licin.

Di senja hari, ketika kabut kembali turun menyelimuti pegunungan Gunung Cut, asap dupa dari kenduri adat masih mengepul pelan di udara.

Namun kali ini, doa-doa warga terasa berbeda. Setelah puluhan tahun hidup dalam keterbatasan, mereka akhirnya melihat harapan itu benar-benar nyata. Melalui jalan yang kini membelah pegunungan, warga mulai menguntai harapan-harapan baru menuju masa depan yang lebih baik. TMMD ke-128 menjadi tonggak mempersatukan kembali langkah dan bersama-sama Membangun Negeri dari Desa. **

 

Penulis :
Dansatgas TMMD ke-128 Kodim 0110/Abdya
Letkol Inf Rana Mega Al-Amin, S.I.P.

 

Berita Terkait

Kodim Abdya Kembali Tuntaskan Infrastruktur Desa, Jembatan Beton Gunung Cut Siap Dimanfaatkan
Tak Kenal Lelah, Warga Lhung Tarok Bantu TNI Bangun Pondasi Tower Demi Air Bersih untuk Masyarakat
Kodim Abdya Kembali Bangun Infrastruktur Desa, Jembatan Aramco Resmi Rampung di Cot Bak’u
Kodim 0110/Abdya Bangun Jembatan Aramco, Petani Sebut Sangat Membantu Angkut Hasil Panen
Gol Kapten Safaruddin Antar Legend 0110 Abdya ke Final Piala Pangdam IM U-43 2026
Manunggal Air TNI AD Berjalan Sesuai Target, Tower Air di Padang Bak Jok Mulai Ditegakkan
Dominasi Sejak Awal, Tim Legend Abdya Pastikan Tempat di Semifinal Piala Pangdam IM U-43
Gotong Royong TNI-Warga, Pembangunan Jembatan Beton di Gunung Cut Dipercepat
Tag :

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 16:28 WIB

Kajari Karo Lantik Tiga Pejabat Struktural, Tekankan Integritas dan Profesionalisme

Sabtu, 5 September 2026 - 16:37 WIB

Pemkab Karo Bantah Konflik Kepentingan dalam Penyaluran CSR Beasiswa ke SMA Unggul Bina Kasih Nusantara

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:55 WIB

Polres Simalungun Bantah Penerbitan SIM Baru di Layanan SIM Keliling, Keberatan Foto Kapolres Digunakan Tanpa Konfirmasi

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 13:41 WIB

Siswa SD Seberaya Meninggal Setelah Vaksinasi, Dinas Pendidikan Karo Akui Tak Terima Laporan Kegiatan

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Sulit Dikonfirmasi Awak Media, Akses Komunikasi Kapolres dan Kasat Reskrim Polres Karo Dipertanyakan

Jumat, 31 Juli 2026 - 00:32 WIB

𝙋𝙚𝙣𝙚𝙗𝙖𝙣𝙜𝙖𝙣 𝙆𝙖𝙮𝙪 𝙂𝙪𝙣𝙖 𝙈𝙚𝙢𝙗𝙖𝙣𝙜𝙪𝙣 𝙂𝙚𝙧𝙚𝙟𝙖, 𝙅𝙚𝙨𝙚 𝙏𝙤𝙜𝙖𝙩𝙤𝙧𝙤𝙥 𝙅𝙖𝙡𝙖𝙣𝙞 𝙎𝙞𝙙𝙖𝙣𝙜 𝙙𝙞 𝙋𝙉 𝙆𝙖𝙗𝙖𝙣𝙟𝙖𝙝𝙚

Selasa, 14 Juli 2026 - 22:58 WIB

𝙍𝙚𝙡𝙖𝙬𝙖𝙣 𝙋𝙞𝙣𝙠 𝘽𝙚𝙧𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙁𝙤𝙧𝙪𝙢 𝙋𝙚𝙩𝙖𝙣𝙞 𝘽𝙪𝙣𝙜𝙖 𝙆𝙖𝙧𝙤 𝙈𝙚𝙣𝙙𝙖𝙩𝙖𝙣𝙜𝙞 𝙆𝙖𝙣𝙩𝙤𝙧 𝘿𝙞𝙨𝙥𝙚𝙧𝙞𝙣𝙙𝙖𝙜 𝙆𝙖𝙧𝙤

Senin, 13 Juli 2026 - 14:27 WIB

Dari Pengakuan Marga Purba Dari Kesain Rumah Jahe Status Kepemilikan Tanah Lokasi RSUD Kabanjahe Menemui Babak Baru

Berita Terbaru

SUBULUSSALAM

Putusan NO Tak Menghapus Jejak Dokumen dalam Sengketa Lae Saga

Sabtu, 5 Sep 2026 - 23:08 WIB

error: Content is protected !!